Rabu, 23 September 2009

Berpikir untuk Setelah Mati

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr : 18).

Ayat di atas, mengisyaratkan kepada kita agar orang-orang beriman selalu bertakwa kepada Allah dan memperhatikan bekal apa yang telah dipersiapkan dan diperbuat bagi kehidupan di hari esok (akhirat). Di sini, hemat penulis ada satu rumusan yang mesti kita pahami dan disadari betul dalam hidup ini. Yakni berupa niat dan pola pikir.

Artinya, perilaku yang diperbuat oleh manusia itu, semata-mata diawali dari inspirasi sebuah niat dan pola pikir dalam hati dan akalnya. Untuk itu, niat dan akal ini harus kita tata dan bina dengan baik agar melahirkan perbuatan/perilaku yang dapat menjadi bekal dan penyelamat di akhirat kelak.

Pada tataran ini, setiap muslim hendaknya dapat membangun potensi pikirnya secara produktif. Pertanyaannya, bagaimana kedudukan berpikir ini menurut pandangan Al-Qur'an dan langkah-langkah berpikir seperti apa yang dapat kita bangun, sehingga pola pikir ini dapat menjadi bekal di kemudian hari?

***

Pengertian Rasionalisme

Rasionalisme terbentuk dari kata rasio (akal pikiran manusia) dan isme (faham). Jadi, rasionalisme diartikan sebagai faham yang berdasarkan akal pikiran. Faham ini dikemukakan oleh Rene Descartes, yang berdasarkan pendewaan terhadap akal manusia. Ia mengatakan bahwa kebenaran yang hakiki hanya dapat dibuktikan melalui akal. Akal ini merupakan unsur yang tertinggi dalam struktur kehidupan manusia. Dari aktivitas akal ini akan melahirkan sebuah pola pikir yang sangat menentukan derajat kehidupan seseorang.

Menurut Agus Sujanto (1981 : 64), berpikir ialah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubungan-hubungan antara ketahuan-ketahuan kita. Lebih jauh dikatakan berpikir adalah suatu proses dialektis. Artinya, selama kita berpikir, pikiran kita mengadakan tanya jawab dengan pikiran kita, untuk dapat meletakkan hubungan-hubungan antara ketahuan kita itu, dengan tepat. Pertanyaan itulah yang memberi arah kepada pikiran kita. Lalu, apa bedanya antara akal dan intelegensi?

Kalau kita telaah, ternyata di dalam berpikir, kita mempergunakan alat (berupa akal). Dan hasil pemikiran itu kadang terlahirkan dengan bahasa. Adapun yang disebut intelegensi, ialah suatu kemampuan jiwa kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir.

Berkait dengan itu, patut kita kenal seorang tokoh peletak tonggak peradaban dunia Barat, yaitu Ibnu Rusyd. Selain sebagai tokoh peletak tonggak peradaban, seperti ditulis Phillip K. Hitti, Ibnu Rusyd adalah seorang rasionalis, dan menyatakan berhak menundukkan segala sesuatu kepada pertimbangan akal, kecuali dogma-dogma keimanan yang diwahyukan. Tetapi ia bukanlah free thinker, atau seorang tak beriman.

Terlepas dari perbedaan pola pikir antara Ibnu Rusyd dengan para ilmuwan lain pada zamannya, yang jelas dari karya-karya yang dihasilkan Ibnu Rusyd, telah mengajari kita prinsip dan nilai-nilai beragama yang rasional, toleran, dan ramah. Yang terakhir inilah, patut kita teladani, karena pengalaman dan pelajaran yang baik di masa lalu itu pula yang pernah mengantarkan kejayaan Islam di abad pertengahan.

***

Berpikir Menurut Al-Qur'an

Setiap manusia itu memiliki potensi yang diberikan Allah SWT dan hendaknya harus kita syukuri. Potensi manusia itu meliputi rasio/pemikiran, akal/Al-Aqlu, hati/Al-Qalbu, nafsu, jiwa/ruh, dan raga/jasmani.

Potensi rasio/pemikiran manusia, pada dasarnya tidak semakna dengan akal. Choiruddin Hadhiri SP (1998 : 85) menyebutkan sasaran rasio adalah segala sesuatu yang hanya dapat ditangkap atau diperoleh dari pengalaman indera manusia. Sedangkan sasaran akal selain unsur rasio, juga unsur fitrah yang membuat rasa percaya (yang timbul dari hati yang suci). Dalam Al-Qur'an banyak ayat-ayat yang mengungkapkan tentang potensi rasio/pemikiran ini agar manusia menggunakannya untuk memikirkan keesaan dan kekuasaanNya.

Allah SWT berfirman, "Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Ar-Ra'd : 3).

Sementara itu, beberapa kejadian alam semesta yang patut untuk kita pikirkan sebagai jalan pengakuan terhadap kebesaran Allah, di antaranya tentang binatang, tumbuh-tumbuhan, planet, lautan, gunung, bumi, dan lain-lain (QS. An-Nahl : 5-17). Setiap potensi kejadian alam semesta ini, semuanya semata-mata diciptakan untuk kepentingan manusia. Yakni bagi mereka yang mampu berpikir.

Allah SWT berfirman, "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripadaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir." (QS. Al-Jaatsiyah : 13).

Selain itu, Allah SWT juga memerintah manusia agar memikirkan proses kejadiannya sendiri dan kehidupan yang telah dirasakan, bagaimana manusia hidup, bagaimana ketika tidur dan matinya, serta tentang kehidupan dunia yang sementara ini (QS. 30 : 20-21; 39 : 42; 10 : 24).

Setelah manusia memikirkan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentuk di alam semesta atau diceritakan dalam kitab Al-Qur'an, maka manusia tidak akan mengakui atas kekuasaan-kekuasaan Allah tersebut, sepanjang hatinya tidak berfungsi karena buta, tidak yakin, dan kotor.

Atas dasar kondisi rasio dan hati seperti itu, maka ada dua kemungkinan yang dapat kita tarik benang merahnya. Pertama, sesuatu yang masuk akal belum tentu dapat dirasionalkan, sebab berfungsinya kemampuan rasio manusia sangat terbatas, hatinya buta, dan menyebabkannya tidak yakin.

Kedua, sesuatu yang rasional tentu dapat diterima akal, sebab dalam akal manusia ada unsur hati/rasa percaya. Di sini, akal manusia akan semakin berfungsi dengan baik manakala unsur rasa atau hatinya baik, suci, dan senantiasa beriman.

***

Langkah-langkah Berpikir

Betapa pentingnya potensi berpikir ini dalam hidup manusia. Sehingga amatlah rugi bagi manusia yang tidak memfungsikan potensi pikirnya ini secara baik. Dengan diberinya kemampuan berpikir pada manusia, maka kita seharusnya mampu membuat pertimbangan-pertimbangan dan melakukan penelitian-penelitian terhadap berbagai hal dan peristiwa, kemudian menyimpulkan yang umum dari yang khusus serta menemukan hasil-hasil berdasarkan premis-premis.

Oleh sebab itu, potensi kemampuan berpikir inilah yang menjadikan manusia pantas diberi kewajiban untuk melaksanakan berbagai ibadah, mempertanggungjawabkan pilihan dan kehendaknya. Premis inilah barangkali yang menyebabkan manusia layak menjadi khalifah Allah di muka bumi. Pertanyaannya adalah sudah benarkah proses berpikir kita dan bagaimana langkah-langkah berpikir dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi oleh manusia?

Pada dasarnya, proses-proses yang dilalui ketika kita melakukan aktivitas berpikir adalah; Pertama, pembentukan pengertian. Artinya dari satu masalah, pikiran kita membuang ciri-ciri tambahan, sehingga tinggal ciri-ciri yang tipis (baca : yang tidak boleh tidak ada) pada masalah itu. Dalam hal ini, berdasarkan pembentukannya, terdapat tiga macam pengertian, yaitu : (1) Pengertian pengalaman, ialah pengertian yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang berturut-turut; (2) Pengertian kepercayaan, ialah pengertian yang terbentuknya berdasarkan kepercayaan, bukan karena apa-apa dan tidak pernah dialami; (3) Pengertian logis, ialah pengertian yang terbentuk dari satu tingkat ke tingkat yang lainnya (baca : menganalisa, membandingkan, dan memujaratkan).

Kedua, pembentukan pendapat. Artinya pikiran kita menggabungkan atau menceraikan beberapa pengertian, yang menjadi tanda khas dari masalah itu. Jadi, pendapat dibentuk berdasarkan dari pengertian-pengertian. Dalam hal ini, ada dua macam pendapat, yaitu : (1) Pendapat yang positif, ialah pendapat yang menggabungkan. (2) Pendapat yang negatif, ialah pendapat yang menceraikan.

Ketiga, pembentukan keputusan. Artinya pikiran kita menggabungkan pendapat-pendapat tersebut. Berdasarkan prosesnya, maka keputusan ini dibedakan menjadi keputusan dari pengalaman-pengalaman, keputusan dari tanggapan-tanggapan, dan keputusan dari pengertian-pengertian.

Keempat, pembentukan kesimpulan. Artinya pikiran kita menarik keputusan dari keputusan-keputusan lain. Berdasarkan proses terjadinya suatu kesimpulan, maka kita bedakan menjadi tiga macam kesimpulan. (1) Kesimpulan induksi, ialah kesimpulan yang ditarik dari keputusan-keputusan khusus untuk mendapatkan yang umum. (2) Kesimpulan deduksi, ialah kesimpulan yang ditarik dari keputusan yang umum untuk mendapatkan keputusan khusus. (3) Kesimpulan analogi, ialah kesimpulan yang sama. Artinya kesimpulan yang ditarik dengan jalan membandingkan situasi yang satu dengan situasi yang lain, yang telah kita kenal sebelumnya. Tetapi, karena pada umumnya pengenalan kita kepada situasi pembanding ini kurang teliti, maka kesimpulan analogi ini biasanya juga kurang benar.

Dalam bahasa yang lain, pada saat seseorang berpikir untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya, biasanya ia mengikuti langkah-langkah tertentu yang telah dikaji dan dianalisis oleh para psikolog. Langkah-langkah ini, menurut Muh. Usman Najati (1984) di antaranya berupa : Pertama, menyadari adanya masalah. Seseorang akan mulai berpikir bila menghadapi permasalahan yang ada kaitan dengan kepentingan dirinya, dan ia merasakan adanya dorongan kuat untuk memecahkannya, guna mencapai yang diinginkannya. Menyadari adanya masalah merupakan langkah pertama dalam proses berpikir.

Kedua, menghimpun data. Ketika seseorang merasakan adanya suatu persoalan, biasanya ia meneliti topik masalah yang dihadapinya itu dari berbagai aspek, agar dapat memahaminya dengan baik. Kemudian ia mengumpulkan berbagai data dan informasi untuk mengetahui sesuai tidaknya dengan persoalan yang dihadapi, untuk kemudian mengambil yang ada hubungannya.

Ketiga, menyusun hipotesis. Pada saat menghimpun data dan informasi yang berkaitan dengan masalah, terlintas dalam otak beberapa kemungkinan solusi atau hipotesis. Yakni pemecahan persoalan yang direncanakan.

Keempat, menilai hipotesis. Ketika seseorang pemikir sedang menyusun hipotesis untuk memecahkan masalah, biasanya ia mengkaji dan mendiskusikan hipotesis itu berdasarkan data dan informasi yang ada padanya. Tujuannya untuk meyakinkan kesesuaian dan kelayakannya guna memecahkan masalah tersebut. Penilaian hipotesis ini bisa dilakukan berulang kali, manakala kita belum sampai pada hipotesis yang dapat diterima dan sesuai dengan informasi dan fakta yang ada, serta layak untuk memecahkan persoalan tersebut.

Kelima, membuktikan kebenaran hipotesis. Setelah menjauh terhadap hipotesis-hipotesis yang tidak sesuai dan kita telah memperoleh hipotesis yang sesuai dan layak untuk memecahkan persoalan, maka seorang pemikir biasanya akan mengumpulkan data-data yang lain, dan melakukan pengamatan baru atau mengadakan beberapa percobaan untuk menyakinkan kebenaran hipotesisnya.

Akhirnya, melalui alur-alur pola pikir/rasio yang seperti itulah, tentunya akan menghasilkan sebuah keputusan berpikir tidak hanya mengejar kepentingan di dunia semata, tapi lebih jauh dari itu untuk kepentingan di kemudian hari (baca : akhirat).

Hanya orang-orang yang mampu menggunakan pikirnya secara benarlah, yang layak mendapat predikat orang-orang cerdas. Dalam hal ini, Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya menyebutkan, "Orang yang cerdas itu adalah orang yang beramal untuk setelah mati." Kita berdo'a, semoga Allah SWT membimbing kita untuk dapat menggunakan pikir dan hati ini sebagai bekal setelah mati nanti.

Wallahu a'lam.

---

Daftar Inspirasi
1. Asyarie, Sukmadjaja & Rosy Yusuf. "Indeks Al-Qur'an". Bandung : Penerbit Pustaka; 2000.
2. Fathan, Abu (ed). "Ceramah Umum". Assaduddin Press.
3. Hadhiri SP, Choiruddin. "Klasifikasi Kandungan Al-Qur'an". Jakarta : Gema Insani Press; 1998.
4. Najati, Muh. Usman. "IlmAan-Nafs fi Hayatina Al-Yaumiyyah". Kuwait : Dar Al-Qalam; 1984.
5. Najati, Muh. Usman. "Al-Qur'an dan Psikologi". Jakarta : Aras Pustaka; 2001.
6. Sucipto, Hery. "Ibnu Rusyd Peletak Tonggak Peradaban". Jakarta : Suplemen HU. Republika Dialog Jumat, 9 Agustus 2002.
7. Sujanto, Agus, Drs. "Psikologi Umum". Jakarta : Penerbit Aksara Baru; 1981.
8. Taher, A. Mursal H.M., Drs, dkk. "Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan". Bandung : PT. Al-Ma'arif; 1977.

- 1 Juli 2009


Sumber :

Arda Dinata

http://kotasantri.com/pelangi/risalah/2009/07/01/berpikir-untuk-setelah-mati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar